Beranda Kesehatan Hubungan Stres dan Ketahanan Emosional yang Wanita Wajib Tahu

Hubungan Stres dan Ketahanan Emosional yang Wanita Wajib Tahu

0
STRES Vs KETAHANAN EMOSIONAL Min
STRES Vs KETAHANAN EMOSIONAL. Sumber: cnnindonesia.com

Merupakan hal yang normal sebenarnya tubuh kita merespon menjadi stress ketika dalam tekanan mental yang berlebihan. Rasa gugup dan putus asa atau hal-hal lainnya membuat kondisi psikologis kita berada dalam tekanan, membuat tubuh kita bereaksi untuk meresponnya. Reaksi psikologis dalam menghadapi permasalahan tersebut dikenal dengan stress.

Menurut American Psychological Association, stress merupakan respon emosional yang disebabkan oleh masalah eksternal, seperti tekanan kerja, penyakit kronis hingga bertengkar dengan pasangan.

Stres membentuk tubuh waspada pada keadaan itu. Indikasinya, degup jantung bertambah cepat, tangan berkeringat, serta kadang seseorang jadi gegabah lantaran kagak mampu mengendalikan emosinya.

Tak hanya reaksi tubuh di atas, stres pula memiliki gejala emosional yang mempunyai akibat buruk bagi seseorang.

Ini tanda emosional yang berhubungan dengan stres dan kesehatan mental sebagaimana diwartakan dari Healthline:

Depresi

Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika (Anxiety and Depression Association of America/ADAA) mendeskripsikan depresi sebagai gangguan emosional pada saat seseorang individu menghadapi kondisi perasaan jelek alias mood yang rendah secara berkanjang serta tidak berubah-ubah dalam periode waktu lama.

Tidak Sedikit riset telah membuktikan adanya hubungan antara tingkatan stress berlebihan serta timbulnya depresi.

Sebuah riset yang diterbitkan di jurnal Depress Anxiety pada Agustus 2009 kepada 800 responden wanita memperlihatkan adanya pertalian antara bermacam jenis stress dan depresi berat pada individu.

Selama penelitian, para periset mengukur kalau insiden yang mengakibatkan stress berkontribusi kepada gangguan tekanan mental yang makin besar kepada perempuan.

Begitu pula, perihal tingkat stress pada populasi usia kerja, yang mana depresi makin sering terjadi kepada orang yang melaporkan tingkatan stress yang kian tinggi pada profesinya ketimbang orang normal.

Kecemasan

Rasa cemas berlainan dari keadaan depresi. Kecemasan diisyarati dengan perasaan cemas lewat batas serta sedih yang berkanjang.

Akan Tetapi, serupa dengan depresi, perasaan khawatir bisa jadi gejala jika seorang menderita stress, yang dalam waktu yang lama, bisa berakibat ke gangguan kecemasan.

Mudah Marah

Iritabilitas penuh emosi alias cepat marah menggambarkan karakteristik umum orang yang menjalani stress.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di American Heart Journal pada Januari 2015 memperlihatkan kalau kepekaan tinggi pada amarah berhubungan erat dengan stress kejiwaan. Hal ini punya bahaya pada tubuh yang jadi cikal bakal serangan jantung imbas stress.

Dorongan Intim Rendah

Pada sebagian orang, stress melampaui batas berakibat negatif bagi hasrat hubungan intim dan intimasi romantis.

Tingkat stress akut berimbas negatif kepada energi intim. Riset yang ditayangkan di jurnal Hormones and Behavior memperlihatkan jika tingkat kortisol yang tinggi, yang merupakan imbas stress, memiliki pengaruh pada dorongan intim yang makin sedikit pada pria beserta wanita.

Gangguan Ingatan dan juga Kesulitan Berkonsentrasi

Bila Kamu merasa mengalami permasalahan konsentrasi serta gangguan ingatan, bisa jadi Kamu tengah mengalami stress.

Dua periset dari New York University: Charles Finsterwald dan juga Cristina M. Alberini menerangkan jika rute tanggapan stress di otak memiliki efek pada kemampuan ingatan jangka panjang.

Lewat penelitian yang berjudul “Stress and glucocorticoid receptor-dependent mechanisms in long-term memory: from adaptive responses to psychopathologies”, keduanya mendapati jika hormon-hormon spesifik sehabis insiden yang mengakibatkan stress alias peristiwa traumatis mampu mengacaukan daya ingat bagi jiwa seseorang.

Perilaku Kompulsif

Perbuatan kompulsif merupakan aksi yang dilakukan secara spontan dan kerap tanpa dipikirkan terlebih dulu.

Misalnya, tingkah laku pengidap kecanduan zat adiktif, tindakannya acapkali tanpa dapat ditahan serta harus dipenuhi. Dan Juga sejauh ini, terdapat relasi antara stress serta perilaku adiktif.

Dalam kajian ilmu jiwa, hormon stress di otak berfungsi besar dalam meningkatnya gajak kecanduan. Menurut para periset, stress akut mampu mengubah watak tubuh otak buat menaikkan perilaku yang menjadikan kebiasaan serta gangguan kecanduan.

Fluktualitas Kondisi Hati (Mood Swing)

Sebagai Halnya arti stress yang adalah reaksi emosional, maka salah satu tandanya ialah metamorfosis suasana hati yang tak stabil alias mood swing.

Riset yang diterbitkan di junal PLos One pada Desember 2014 mengkaji peran beragam model eksperimen stress kepada fisiologi, keadaan batin, serta kesadaran.

Riset itu memperlihatkan bahwa stresor sosial alias kondisi yang mengakibatkan stress, berakibat besar kepada kesehatan emosional serta suasana hati bagi jiwa.

 

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Exit mobile version